Dua kata yang begitu agung.
Nahdlatul berarti kebangkitan.
Ulama berarti orang-orang yang berilmu.
Lalu muncul pertanyaan yang mengusik hati saya:
Mengapa kebangkitan itu seolah hanya dimiliki oleh ulama agama?
Bukankah dalam Islam, setiap orang yang memiliki ilmu dan mengabdikan ilmunya untuk kemaslahatan umat juga layak disebut ulama?
Jika seorang ahli tafsir adalah ulama, mengapa ahli kedokteran yang menyelamatkan ribuan nyawa tidak?
Jika seorang ahli fikih disebut ulama, mengapa ilmuwan pertanian yang mampu mengatasi krisis pangan tidak?
Jika seorang kiai adalah ulama, mengapa profesor teknologi yang menciptakan inovasi untuk umat tidak ikut dipanggil sebagai bagian dari kebangkitan itu?
Di sinilah kegelisahan saya bermula.
Ulama Tidak Pernah Sesempit Itu
Islam tidak pernah memusuhi ilmu.
Justru wahyu pertama adalah "Iqra'"—bacalah.
Bukan "berdebatlah."
Bukan "berkelompoklah."
Bukan pula "sibuk mengurus siapa yang paling benar."
Peradaban Islam pernah memimpin dunia karena para ulama saat itu bukan hanya ahli agama.
Mereka adalah astronom.
Dokter.
Matematikawan.
Fisikawan.
Arsitek.
Ahli kimia.
Filsuf.
Ekonom.
Mereka membangun peradaban, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
Hari ini, apakah semangat itu masih terasa?
Terlalu Sibuk dengan Persoalan Internal
Sebagai warga nahdliyin, saya justru sering merasa sedih.
Energi organisasi yang begitu besar sering kali habis untuk mengurusi persoalan yang hanya dipahami segelintir orang.
Perdebatan mengenai Ba'alawi.
Polemik identitas.
Perselisihan internal.
Kontestasi kelompok.
Sementara di luar sana, dunia sedang berlari.
Artificial Intelligence berkembang setiap hari.
Teknologi kuantum mulai diterapkan.
Bioteknologi mengubah masa depan kesehatan.
Ekonomi digital menciptakan miliarder baru setiap bulan.
Indonesia sedang menghadapi tantangan pangan, energi, pendidikan, dan lapangan kerja.
Namun, ruang diskusi kita justru masih dipenuhi isu-isu yang nyaris tidak menyentuh kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Pertanyaannya sederhana:
Apakah itu yang sedang dibutuhkan umat?
Mengapa Harus Terjebak dalam Persaingan Organisasi?
Ironisnya, yang tampak ke permukaan justru persaingan yang tidak produktif.
Siapa yang lebih besar.
Siapa yang lebih banyak amal usaha.
Siapa yang lebih kuat ekonominya.
Siapa yang lebih hebat organisasinya.
Bukankah organisasi hanyalah alat?
Tujuan akhirnya adalah kemaslahatan umat.
Jika energi habis untuk saling membandingkan, siapa yang benar-benar sedang membangun masa depan bangsa?
Organisasi besar tidak diukur dari jumlah kantor cabangnya.
Tetapi dari seberapa besar manfaatnya bagi peradaban.
Lihatlah Lambang NU
Ada sesuatu yang selalu membuat saya berpikir.
Lambang NU menggambarkan bumi yang dikelilingi tali.
Bahkan ukuran bola dunia dalam logo itu tampak kecil dibandingkan keseluruhan simbol.
Pesannya seolah sangat jelas.
Pandangannya mendunia.
Misinya lintas batas.
Semangatnya universal.
Tetapi mengapa cara berpikir sebagian kita justru semakin mengecil?
Mengapa cakrawala organisasi sebesar bumi hanya dipakai untuk melihat persoalan yang tidak lebih luas dari pagar kelompok sendiri?
Bukankah simbol itu mengajarkan bahwa NU seharusnya hadir untuk seluruh umat manusia?
Bayangkan Jika NU Menjadi Rumah Seluruh Ilmuwan
Saya membayangkan NU memiliki divisi yang benar-benar menjadi pusat kebangkitan ilmu pengetahuan.
Bukan hanya lembaga bahtsul masail.
Tetapi juga pusat riset kecerdasan buatan.
Laboratorium robotika.
Inkubator startup.
Pusat teknologi pangan.
Akademi ekonomi syariah digital.
Lembaga energi terbarukan.
Pusat riset kesehatan.
Forum ilmuwan dunia.
Bayangkan jika setiap ilmuwan muslim, bahkan ilmuwan dari berbagai latar belakang yang memiliki komitmen pada kemanusiaan, merasa bahwa NU adalah rumah intelektualnya.
Betapa dahsyatnya dampak yang dapat diberikan.
Kebangkitan Sejati Tidak Lahir dari Polemik
Peradaban tidak dibangun dengan memperpanjang daftar lawan.
Peradaban dibangun dengan memperbanyak karya.
Umat tidak membutuhkan lebih banyak perdebatan.
Umat membutuhkan lebih banyak solusi.
Anak muda tidak sedang mencari organisasi yang paling pandai berdebat.
Mereka mencari organisasi yang mampu membuka lapangan pekerjaan.
Mengembangkan teknologi.
Melahirkan inovasi.
Memberikan beasiswa.
Membangun pusat penelitian.
Menghasilkan penemuan baru.
Di sanalah kebangkitan yang sesungguhnya.
Saatnya Menafsirkan Kembali Makna "Nahdlatul Ulama"
Menurut saya, sudah saatnya makna Nahdlatul Ulama dikembalikan kepada ruh besarnya.
Bukan sekadar kebangkitan ulama agama.
Tetapi kebangkitan seluruh insan berilmu.
Setiap ilmuwan.
Setiap guru.
Setiap dokter.
Setiap insinyur.
Setiap programmer.
Setiap petani yang menemukan inovasi.
Setiap peneliti.
Setiap ekonom.
Setiap pendidik.
Semua yang mengabdikan ilmunya demi kemaslahatan umat adalah bagian dari kebangkitan itu.
Jika NU benar-benar ingin menjadi organisasi Islam terbesar di dunia, maka kebesarannya tidak cukup diukur dari jumlah anggota.
Kebesarannya harus diukur dari kemampuannya menjadi rumah bagi seluruh ilmu pengetahuan dan seluruh insan yang mengabdikan ilmunya untuk kemanusiaan.
Karena ketika ilmu dipersempit hanya menjadi milik satu bidang, yang mengecil bukan hanya organisasi—tetapi juga cita-cita peradaban yang seharusnya dibangun bersama.
Dan mungkin, pertanyaan paling penting yang perlu kita renungkan hari ini bukanlah "Siapa yang paling NU?"
Melainkan:
"Apakah NU hari ini sudah sebesar makna yang dikandung oleh namanya sendiri?"
